KARTINI DI UJUNG TEMPAT SAMPAH
Karya: Azizah Hilyatul ‘Ain
Kelas X.3
DETIK WAKTU tak pernah benar-benar bisa berhenti. Ia terus bergerak untuk meninggalkan jejak yang kadang tak sempat kupahami. Di tengah hiruk pikuk kelas yang berjalan tanpa jeda, aku terpasung pada rasa rendah diri yang enggan beranjak dari palung hati.
“Tolong buangin sampahku, dong…”
Kalimat itu kembali meluncur dari kursi seberang. Hanya berjarak dua meja—cukup dekat untuk terdengar jelas, namun cukup jauh untuk membuatku merasa terasing. Sudah tiga bulan ruang ini menjadi bagian dari keseharianku, dan selama itu pula, sebuah kebiasaan pahit terbentuk. Aku menjadi tangan kedua bagi sampah milik seseorang yang bahkan tak benarbenar menganggapku ada.
Mengapa langkah sederhana menuju tempat sampah terasa begitu berat bagi mereka? Pertanyaan itu kerap muncul dibenakku, lalu tenggelam begitu saja.
“Hei, cepat sini! Jangan diam saja!” Bentakan itu kembali datang. Nadanya yang sama, tekanannya yang sama. Suara itu perlahan mengikis ruang di dalam diriku, membuatku merasa menciut. Untuk pertama kalinya, tempat yang seharusnya menjadi ruang bertumbuh justru terasa menyesakkan.
Setiap aksara yang kususun berakhir menjadi duri yang menyumbat kerongkongan; aku ingin bicara, namun ketakutan ini selalu mencekikku. Mungkin karena kepercayaan yang pernah runtuh, atau bayang-bayang masa lalu yang belum usai. Pada akhirnya, bungkam adalah benteng paling kokoh yang bisa kubangun untuk menjaga rahasia yang tak sanggup kuucap. Namun aku sadar, diam yang terlalu lama perlahan-lahan akan menghapus keberadaanku dalam kehidupan. Jika pada sesama saja mereka bisa semena-mena, bagaimana mereka bisa peduli pada bumi yang tak mampu bersuara?
Hari ini, langkahku bergerak ragu saat jemariku memungut bungkus plastik berminyak miliknya. Aku berjalan menuju tempat sampah di sudut koridor, berniat membuangnya seperti biasa. Namun, di ujung tempat sampah itu, mataku menangkap sesuatu yang berbeda. Sebuah kartu kecil, bersih dan sedikit berwarna gading. Ia terselip di antara tumpukan limbah. Kuraih jemariku padanya, menyeka debu yang menyelimuti, lalu menelusuri tiap aksara emas yang berpendar dalam barisan kata.
“Jadilah perempuan yang tidak hanya berani bermimpi, tetapi juga berani mengambil langkah nyata.” —R.A. Kartini
Dadaku berdesir hebat. Kalimat itu seperti gema dari masa lalu, pesan Kartini yang selama ini hanya kuanggap pajangan dinding, kini menamparku tepat di ulu hati. Langkah nyata. Apa langkah nyataku jika aku terus membiarkan diriku diinjak? Aku meremas kartu itu, menyimpannya di saku seragam sekolah, lalu kembali ke kelas dengan langkah yang sedikit berbeda dari biasanya.
“Hei! Lama banget sih? Dengar nggak?” Suara itu kembali memanggil saat aku baru saja sampai di depan mejanya. Kali ini jauh lebih keras. Namun diam yang hadir dariku kali ini bukan lagi karena takut. Aku mengangkat kepala. Tatapan yang selama ini kuhindari, akhirnya bertemu tanpa rasa keraguan.
“Kenapa tidak buang sendiri?” suaraku pelan, nyaris tenggelam dalam riuh kelas, namun cukup tajam untuk memutus kebiasaan buruk itu.
“Apa?” balasnya dengan sorotan mata tajam, terkejut.
“Kakimu masih bisa berjalan, kan?” suaraku mengeras. Ada degup jantung yang tidak tenang, tapi rasa jujur jauh lebih mendominasi. “Mulai sekarang, tanggung jawabmu bukan bebanku.”
Tatapan mereka mulai tertuju pada diriku, dan dalam sekejap, keheningan di ruangan ini berubah menjadi benang yang siap putus.
“Tumben berani,” ucapnya datar, berusaha menutupi rasa malu.
Aku tidak membalas lagi. Tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutku, namun di dalam sana, sesuatu yang rapuh telah runtuh dan sesuatu yang baru pun mulai tumbuh. Mungkin benar, diam tidak selalu salah. Namun ketika diam menghilangkan jati diri, ia bukan lagi tempat untuk bertahan.
Aku melihat sekeliling kelas. Bungkus plastik dan sisa makanan selalu tercecer di lantai kelas. Selama ini, aku hanya marah pada mereka yang lalai, tanpa sadar bahwa pembiaranku adalah bagian dari masalah. Sebab diam adalah bentuk persetujuan yang paling sunyi terhadap kerusakan.
Jemariku seketika bergerak menyelinap ke bawah meja, meraih sisa-sisa abai yang berserak di dekat kaki. Bukan karena tunduk pada titah, melainkan sebuah janji pada diri untuk tetap menjaga apa yang tak dipedulikan dunia.
Aku kembali melangkah.
Satu.
Dua.
Langkahku berjalan menuju tempat sampah. Kali ini, setiap langkah terasa lebih ringan. Sederhana, namun maknanya tak lagi sama. Tak semua keberanian harus hadir dengan teriakan lantang. Terkadang, ia muncul dalam bentuk paling bersahaja: keberanian untuk menolak penindasan dan kesadaran untuk menjaga apa yang kita pijak.
Bumi ini memang tidak pernah menuntut manusia yang sempurna. Ia hanya menunggu siapa yang bersedia bergerak. Dan hari ini, di bawah semangat Kartini yang kutemukan di tempat sampah, perubahan itu telah dimulai dariku. Dari hal yang paling sederhana dalam hidup.